Sabtu, 30 Oktober 2021

News

News>
Sabtu_30102021

WARTA KOTA, SAWAH BESAR - Menjadi cagar budaya milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tak membuat Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Jakarta, Jalan Budi Utomo no 7, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Senin (14/4), tak membuat kurang penggunaan teknologi. 

Dalam pengawasan Ujian Nasional 2014 ini, tiap ruangan dilengkapi oleh Circuit Closed of Television (CCTV). Wakil Bagian Kesiswaan SMAN 1 Jakarta, Tanto Soetiono menjelaskan bahwa sekolah yang dibangun sejak tahun 1967 itu sudah menjadi cagar budaya. 
Bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda sendiri sangat kental terasa ketika memasuki sekolah yang dulunya bernama SMA Boedi Oetomo (Boedoet-red) itu. "Ini bangunan lama era zaman Belanda yang digunakan siswa untuk melaksanakan UN. Tahun 1967, SMA ini dibangun. Katanya dulu sebagai penjara dan perpustakaan," kata Tanto.  
Yang sangat kental menjadi suatu peninggalan sejarah ada lonceng utama dari sekolah tersebut. Tak hanya itu, pohon sengon besar yang terletak di bagian tengah sekolah membuat suasana era 1960an sangat terasa. "Yang paling diingat para alumni adalah lonceng dan pohon besar itu. Jadi memang sudah jadi cagar budaya," tuturnya. 
 Kemudian, untuk memperketat pengawasaan di sekolah, SMAN 1 Jakarta dilengkapi oleh CCTV. Hal ini dilakukan agar para pelajar serta pengajar bisa diawasi oleh pihak sekolah. "Panitia dan pelajar bisa dipantau. Soalnya semua ruangan ada CCTVnya," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Jadi Cagar Budaya, SMAN 1 Jakarta Dilengkapi CCTV, https://wartakota.tribunnews.com/2014/04/14/jadi-cagar-budaya-sman-1-jakarta-dilengkapi-cctv.
Penulis: | Editor: Dian Anditya Mutiara

Boedoet Toedjoeh

B7> Sabtu_30102021


Sekilas gedung cagar budaya yang kini menjadi gedung SMAN 1 ini mirip bangunan rumah sakit pemerintah Hindia Belanda
bangunan di sebelah kiri, SMK Negeri 1, adalah perkantoran pemerintah Hindia Belanda, sedangkan bangunan di sebelah kanan adalah rumah tahanan,
Orang-orang yang ditangkap dibuat berkasnya di kantor pemerintah itu, lalu dijebloskan ke penjara di sebelah. Kalau ada yang sakit baru dibawa ke gedung yang kini SMAN 1
deretan jendela besarnya, ciri rumah sakit lain adalah lorong-lorong ruang dengan deretan lampu gantung berkaca bulat susu.
Atap lorong disangga deretan tiang besi ramping yang sering terlihat di lingkungan gedung rumah sakit era kolonial Belanda di berbagai penjuru Tanah Air.

Mengamati bagian dalam kompleks gedung asli yang berbentuk tapal kuda. Lahan di tengah tapal kuda umumnya dijadikan taman dan ditanami beberapa pohon besar.
Itulah ciri lain bangunan rumah sakit di era Hindia Belanda.
Yang membedakan memang tinggal ada atau tidak adanya daun jendela. Jendela-jendela yang tidak berdaun umumnya adalah ruang kelas, sedangkan jendela yang berdaun biasanya adalah bangsal tidur pasien ataupun bangsal tidur siswa di asrama pelajar
ukuran jendela ruang kelas di SMAN 1 yang mirip dengan bentuk dan ukuran jendela ruang kelas di SMA Santa Ursula di Jalan Pos 2, Pasar Baru, dan SMA Santa Maria di Jalan Ir H Juanda 29, Jakarta Pusat.
awalnya gedung tersebut adalah Gedung Sekolah Prins (Frederik) Hendrik yang pada 1889 sudah didirikan.

Sejarah SMAN 1 sendiri tidak berawal dari gedung cagar budaya tersebut, tetapi berasal dari satu sekolah menengah tinggi (SMT) yang proses belajar-mengajarnya berlangsung di gedung SMA Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat (Jakpus).
Setelah Jepang menyerah, SMT ini dibubarkan dan dibuat kembali sebagai Sekolah Menengah Oemoem Atas (SMOA). Kegiatan belajar-mengajar SMOA ini menumpang di gedung SMA PSKD di Jalan Diponegoro, Jakpus. Setelah berganti nama, SMOA ini dikenal sebagai SMA Kiblik (dari kata Republik).
Tahun 1947, sekolah dibubarkan. Kegiatan belajar-mengajar dilanjutkan di rumah Adam Bachtiar di Jalan Gondangdia Lama Nomor 22 Jakpus, di rumah Wagendrof di Jalan Sawo Nomor 12, dan di beberapa rumah orangtua murid, antara lain di rumah Ny Dr Susilo di Jalan Proklamasi Nomor 69.
Tahun 1950, SMA Kiblik baru mulai menempati gedung di Jalan Budi Utomo Nomor 7 ini sampai sekarang. Bangunan cagar budaya seluas 4.657 meter persegi ini berada di atas lahan seluas 7.060 meter persegi. Di sebelah kiri SMAN 1 berdiri SMKN 1. Usia gedung SMKN 1 lebih muda.
Dibangun Pemerintah Belanda tahun 1906 dengan nama sekolah kejuruan tehnik Koninkljke Wilhelmina School (KWS). Tahun 1946, nama sekolah ini diubah menjadi Sekolah Tehnik Menengah.
Di sebelah kanan SMAN 1, tadinya berdiri bangunan rumah tahanan militer (RTM). "Tahun 1978 RTM dipindah ke Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Bangunan lama dibongkar dan sekarang tinggal lahan kosong," Salah satu ruang di SMAN yang masih dipertahankan orisinalitasnya adalah ruangan bekas laboratorium kimia yang berbentuk seperti aula kecil dengan bangku setengah lingkaran dan berundak.
Ada enam undakan yang masing-masing dilengkapi bangku memanjang. Bangku itu terbuat dari kayu jati yang dipelitur. Kini, ruangan itu digunakan sebagai ruang audiovisual.
Ruangan kerap digunakan untuk pertemuan komite, orang tua, ataupun siswa. Untuk sirkulasi cahaya, Mas Ayu menambah jendela-jendela berukuran sedang di sisi kiri dan kanan.
Ruangan juga dilengkapi alat kedap suara.

https://megapolitan.kompas.com/read/2016/11/21/17000071/cagar.budaya.itu.bernama.sma.boedoet.?page=all
 
#boedoet
#budut
#boedioetomo
#budiutomo7
#smanboedoet
#smknboedoet
#cagarbudaya

News

News> Sabtu_30102021 WARTA KOTA, SAWAH BESAR - Menjadi cagar budaya milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tak membuat Sekolah Menenga...